Beberapa waktu lalu saya baru kepikiran, ternyata orang yang tinggal di Jepang tidak selalu membutuhkan barang-barang yang dibeli di sana. Ada kalanya mereka justru ingin barang dari Indonesia. Contohnya pakaian, perlengkapan sehari-hari, camilan kesukaan, atau barang pribadi yang sudah biasa digunakan sejak tinggal di Indonesia. Kalau dipikir-pikir, masuk akal juga. Kita sendiri kalau sudah terbiasa menggunakan barang tertentu, belum tentu langsung cocok dengan barang penggantinya. Kadang bukan karena barang di tempat baru tidak bagus, tetapi karena sudah nyaman dengan yang biasa digunakan. Misalnya, ada seseorang yang baru pindah ke Jepang untuk bekerja. Beberapa bulan pertama mungkin masih sibuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, sampai urusan belanja kebutuhan sehari-hari. Setelah semuanya mulai berjalan normal, barulah terasa ada barang-barang dari rumah yang ternyata belum terbawa. Awalnya mungkin ingin meminta keluarga mengirim paket ...
Kalau mau kirim barang ke Jepang, salah satu hal yang sering bikin bingung adalah kardus. Harus kardus baru? Boleh pakai kardus bekas? Kardus mie instan boleh? Kardus bekas kulkas boleh? Atau yang penting masih bisa ditutup pakai lakban? 😄 Jawabannya sebenarnya tidak sesederhana “harus baru” atau “boleh bekas”. Yang paling penting adalah kondisi dan kekuatan kardusnya. Kardus bekas sebenarnya bisa saja digunakan Kardus bekas bukan berarti otomatis tidak boleh digunakan. Kalau kondisinya masih bagus, kuat, kering dan tidak rusak, secara fisik kardus tersebut masih bisa digunakan untuk mengemas barang. Tetapi harus dilihat juga barang apa yang dimasukkan ke dalamnya. Barang ringan tentu berbeda dengan barang berat. Kalau kardus bekas sudah lembek dan bagian bawahnya mulai membuka sendiri, sebaiknya jangan dipaksakan. Jangan menunggu sampai kardus menyerah di tengah perjalanan. 😄 Kenapa kardus harus kuat? Paket tidak hanya duduk diam di satu tempat. Selama perjalanan, paket bisa dipind...