Ketika membicarakan ekspor Indonesia ke Turki, banyak orang masih terpaku pada gambaran lama: tekstil, furnitur, atau produk industri berat. Padahal permintaan yang sedang berkembang justru datang dari produk-produk yang selama ini dianggap “biasa saja” oleh pelaku usaha di Indonesia. Ada barang-barang yang nyaris tidak pernah masuk laporan ekspor resmi, tetapi kenyataannya laku keras di beberapa kota Turki karena alasan yang tidak selalu masuk akal secara ekonomi—lebih banyak berkaitan dengan gaya hidup, kebiasaan lokal, dan rasa penasaran masyarakatnya.
Salah satu contohnya adalah produk aroma dan wewangian berbahan natural. Masyarakat Turki punya budaya ruang tamu yang sangat serius: ruangan harus wangi, hangat, dan memberi kesan ramah bagi tamu yang datang. Produk-produk Indonesia seperti essential oil tropis, dupa dari bahan alami, atau parfum rumahan yang punya aroma khas sering dicari karena memberikan suasana berbeda dari wewangian khas Timur Tengah. Mereka tertarik pada aroma yang ringan, segar, dan tidak terlalu berat—sesuatu yang cukup banyak ditemukan pada produk buatan Indonesia.
Makanan ringan Indonesia juga memiliki ceritanya sendiri di Turki. Bukan karena rasanya mirip, justru karena rasa dan teksturnya berbeda dari snack yang biasa mereka konsumsi. Banyak orang Turki menganggap snack Indonesia sebagai produk yang “unik dan menyenangkan,” terutama karena kemasannya yang berwarna-warni dan rasa yang tidak mereka temukan di pasar lokal. Meskipun tidak semua langsung populer secara besar-besaran, ada banyak kasus di mana pembelian kecil berubah menjadi permintaan rutin setelah mereka menemukan satu produk yang cocok dijadikan cemilan saat bekerja atau bersantai.
Di sisi lain, produk-produk kerajinan Indonesia sering mendapat tempat di kalangan pembeli Turki yang menyukai elemen dekoratif etnik. Mereka memiliki kebiasaan memajang benda dengan tekstur kuat dan warna hangat di rumah, terutama di ruang keluarga. Produk bambu, aksesoris kayu, atau kerajinan yang menampilkan motif tropis bisa menonjol karena memberikan kesan “eksotis namun lembut”—kriteria yang jarang disadari oleh produsen Indonesia. Banyak dari mereka tidak menyangka bahwa barang yang dianggap biasa di sini justru terlihat istimewa di pasar sana.
Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah kecenderungan konsumen Turki untuk mencoba produk dari negara yang memiliki citra “jauh namun bersahabat.” Indonesia termasuk dalam kategori ini. Produk yang tidak dikenal bisa menjadi daya tarik tersendiri, terutama jika tidak terlalu mahal dan memiliki bentuk atau aroma yang berbeda dari produk yang mereka temui sehari-hari. Ada rasa penasaran yang mendorong mereka mencoba barang baru tanpa terlalu banyak ragu.
Fenomena produk Indonesia yang diam-diam laris ini sebenarnya merupakan tanda bahwa pasar Turki punya lapisan permintaan yang sulit dilihat lewat data dan laporan resmi. Banyak ekspor barang ke Turki yang tidak dianggap sebagai komoditas ekspor besar justru bergerak perlahan tapi pasti lewat permintaan kecil yang stabil. Jika pelaku usaha melihat pola ini dengan lebih cermat, mereka akan menemukan bahwa pasar Turki tidak hanya potensial, tetapi juga sangat responsif terhadap produk-produk Indonesia yang punya identitas kuat meskipun bentuknya sederhana.

Komentar
Posting Komentar